Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                                             Medan,   April 2019

PEMANFAATAN KOMODITI KEHUTANAN
SARANG BURUNG WALET (Collocalia fuciphaga Thunberg)
Dosen PenanggungJawab:
 Dr. Agus Purwoko, S,Hut, M.Si

Disusun Oleh :
Martin Ricardo Simangunsong
171201204













PROGAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019


KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan ini dengan baik dan tepat waktu. Paper ini berjudul “Pemanfaatan Komoditi Sarang Burung Walet (Collocalia fuciphaga Thunberg)". Penulisan paper ini bertujuan untuk memberikan sumbangan pemikiran dan ilmu mengenai manfaat ekonomi sumberdaya hutan yang terdapat pada sarang burung walet .
Penulis mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing matakuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si atas arahan dan bimbingannya. Penulis menyadari bahwa paper ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik yang konstruktif sangat diharapkan demi kesempurnaan dan kemajuan bersama. Semoga paper ini dapat bermanfaat.
                                                                                                                       



Medan,    April 2019

                               Penulis 




DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ...............................................................................................................................i
DAFTAR ISI.............................................................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang  ....................................................................................................................................1
1.2 RumusanMasalah..................................................................................................................................2
1.3 Tujuan  .................................................................................................................................................2
BAB II. PEMBAHASAN
2.1 Sejarah dari peternakan walet...................................................................................................3
2.2 jenis dari burung walet.............................................................................................................5
2.3 syarat dan ketentuan untuk membuat gedung walet.................................................................6
            2.4 Masalah apa yang dihadapi para peternak burung walet..........................................................7
            2.5 solusi menghadapi masalah para peternak burung walet..........................................................8
BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan...........................................................................................................................................9
3.2 Saran.....................................................................................................................................................9
DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PEBDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
            Walet (Collocalia fuciphaga Thunberg) merupakan burung yang menggunakan air liurnya untuk membuat sarang. Sarang tersebut merupakan sarang yang dapat dimakan sehingga disebut sebagai edible bird’s nest (EBN). Burung walet merupakan burung yang hidup di daerah yang beriklim tropis lembab, dan merupakan burung pemakan serangga yang suka tinggal di dalam gua-gua dan rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang dan sampai gelap dan menggunakan langit-langitnya untuk membangun sarang dan berkembang biak. Burung waletmenghasilkan sarang yang berwarna putih, berbentuk cawan, terbuat dari cairan air liur/saliva yang diproduksi oleh sepasang kelenjar saliva sub lingualis dan kemudian mengeras. Sarang walet digunakan sebagai obat tradisional sejak Dinasti Tang (618-907 M) dan Dinasti Sung (960-1279 M) di Cina. Selain itu sarang walet merupakan simbol kekuasaan, kewibawaan dan kekayaan. Berdasarkan penelitian para pakar gizi sarang burung walet mengandung glyco protein yg esen nya sangan baik untuk kesehatan tubuh manusia. Dalam penelitian Kementerian Kesehatan RI sarang burung walet mengandung protein, karbohidrat, dan lemak. Protein memiliki berat molekul (BM) sekitar lima ribu sampai satu juta sehingga protein sangat mudah mengalami perubahan fisis dan aktivitas biologisnya yang biasanya disebut denaturasi protein. Denaturasi protein adalah perubahan struktur protein yang pada keadaan terdenaturasi penuh, hanya struktur primer protein saja yang tersisa, protein tidak lagi memiliki struktur sekunder, tersier, dan kuartener. Salah satu penyebab denaturasi protein adalah pemanasan. Pengelolahan sarang burung walet umumnya, melalui proses pemanasan, baik yang dijadikan makanan, lotion, ataupun handcream. Kebanyakan makanan dipanaskan agar mempermudah enzim untuk mencerna makanan tersebut, sterilisasi dan merusak protein bakteri. Tapi pemanasan juga menyebabkan beberapa asam amino yang mempunyai gugus reaktif berikatan dengan komponen lain, juga menurunkan nilai gizi protein karena terjadinya penurunan daya cerna.
            Oleh karena itu, pada penelitian ini akan diteliti pengaruh suhu dan jangka waktu pemanasan dalam mengelola sarang burung walet agar kerusakan proteinnya menjadi minimal. Hal ini yang mengakibatkan sarang burung walet sangat diminati dan membuat harga sarang burung walet sangat tinggi di pasaran dunia. Mengingat harga yang sangat tinggi membuat banyak masyarakat di Indonesia melakukan pembudidayaan walet dengan membuat rumah atau gedung-gedung bertingkat untuk dijadikan sebagai tempat habitat burung walet sehingga tidak heran jika yang membuat Indonesia menjadi salah satu negara penghasil dan pengekspor sarang burung walet terbesar di dunia, yaitu sekitar 60% kebutuhan pasar di penuhi dari Indonesia.
Klasifikasi Burung Walet
Kingdom                : Animalia
Divisi                     : Chordata
Kelas                      : Aves
Ordo                      : Apodiformes
Famili                     : Apodidae
Genus                     : Collocalia
Spesies                   :  Collocalia fuciphaga
                                  Collocalia maxima
                                  Collocalia linchi
                                            
Chantler dan Driessens (1995), dalam Soehartono dan Mardiastuti (2003) menyatakan bahwa terdapat 26 spesies genus Collocalia di dunia, 12 spesies diantaranya terdapat di Indonesia. Sulitnya klasifikasi menyebabkan terjadinya perbedaan pandangan dalam menentukan jumlah spesies. Di Indonesia terdapat 12-14 jenis burung walet, sementara Andrew (1992) dan Noerdjito (1996) dalam Soehartono dan Mardiastuti (2003), memperkirakan hanya ada 10 spesies. Indonesia memiliki tiga jenis walet yang sarangnya dapat dimakan. Ketiga jenis walet tersebut adalah walet sarang putih (Collocalia fuciphaga), walet sarang hitam (Collocalia maxima), dan walet linchi (Collocalia linchi). Walet sarang putih merupakan spesies walet yang memiliki nilai ekonomis paling tinggi. Spesies ini memiliki ukuran sedang, berwarna abu-abu kecoklatan, tunggir bervariasi dengan warna yang sama dengan punggung sampai abu-abu muda atau cokelat dan memiliki variasi warna pada bagian penutup sayap. Walet sarang putih memiliki ukuran panjang tubuh sekitar 12 cm dengan bentang sayap 11,6-11 cm, memliki ekor yang bertakik dan berwarna coklat pada bagian bawah tubuh.


 1.2 Rumusan Masalah
        Berdasrakan latar belakang diatas, beberapa masalah yang harus dibahas dalam makalah ini ialah sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah dari peternakan burung wallet ?
2. Berapa jenis dari burung walet ?
3. Apa saja syarat dan ketentuan untuk membuat gedung walet ?
      4. Masalah apa yang dihadapi para peternak burung walet ?
      5. Bagaimana solusi menghadapi masalah para peternak burung walet ?
1.3 Tujuan Penulisan
         Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.   Untuk mengetahui sejarah singkat dari peternakan burung wallet.
2. Memberikan pengetahuan pada masyarakat serta pembaca tentang seberapa besar potensi bisnis dari peternakan burung wallet.
3. Disamping itu pula makah ini dibuat untuk memenuhi tugas matau kuliah   Ekonomi Sumberdaya Hutan.




BAB II
ISI

2.1 Bagaimana sejarah dari peternakan burung wallet
            Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon. Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berkembangbiak.
                               

2.2 Berapa jenis dari burung wallet
            Ada  tiga  jenis  burung walet  yang  umu dikenal antara  lain: 
1.      Collocalia fuciphaga,
2.      Collocalias maxima dan
3.      Collocalia esculenta 
Menurut  pendapat  Chantler  dan  Driessns (1995),Collocalia germani  termasuk dalam spesies Collacalia  fuciphaga sehingga bukan merupakan spesies  tersendiri. Collocalia germani  tidak ditemukan di  Indonesia, namun burung  tersebut ditemukan di negara  lain di Asia seperti Vietnam. Collocalia fuciphaga adalah jenis burung yang banyak dicari karena burung tersebut bersarang putih.  Collocalia  fuciphaga  ditemukan  di  Cina  selatan  dan Asia  Tenggara  termasuk  Indonesia.
Di Sumatra dan Kalimantan burung  tersebut bisa hidup  sampai ketinggian 2800 meter di atas permukan laut, tetapi di Jawa dan Bali burung ini biasanya hidup dekat pantai di dalam gua yang gelap dan dalam. Burung tersebut kira-kira berukuran 12 sentimeter, dadaberwarna  hitam  kecoklatan  dan warna  punggung  lebih  kelabu.  Ekor  burung  ini  bercabang,paruhnya  berwana  hitam  dan  kakinya  juga  berwarna  hitam.
                                                                                   
  2.3  Apa saja syarat dan ketentuan untuk membuat gedung wallet
Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah:
1.      Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.
2.      Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat.
3.      Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging.
4.      Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.
                                     
 2.4 Masalah apa yang dihadapi para peternak burung wallet
Permasalahan permasalahan yang sering terjadi dalam  peternakan burung wallet adalah :
1.      Sangat kesulitan dalam memperoleh modal, sebab peternakan burung wallet membutuhkan waktu bertahun – tahun untuk dapat dipanen, jadi modal sangat sulit didapat. Maka dari itu kebanyakan dari peternakan burung wallet adalah orang – orang yang tarap ekonominya tinggi.
2.      Kurangnya keahlian, dimana peternakan burung wallet tidak seperti peternakan – peternakan lainnya, sebab peternakan burung wallet lebih khusus sebab untuk membuat burung wallet tertarik dan membuat sarang tidak lah mudah, oleh karna itu tidak semua orang dapat menjalankan bisnis ini.
3.      Disamping itu juga masalah hama pada peternakan butung wallet juga harus diperhatikan seperti kecoa, semut, tokek, kelelawar dan butung hantu.
2.5 Bagaimana solusi menghadapi masalah para peternak burung wallet
1.      Dalam persoalan modal, butuh waktu lama untuk mengembalikan modal tersebut, jadi hendaknya modal peternakan burung wallet merupakan hasil dari usaha yang lain artinya, modal tidak merupakan pinjaman tapi dari hasil perputaran modal usaha yang lain yang lebih cepat perputarannya.
2.      Sekarang ini dapat kita lihat bersama bahwa, peternakan burung wallet sudah mulai merebak khususnya untuk daerah Hulu Sungai Utara, jadi untuk menyikapi hal ini, pemerintah hendaknya memiliki inisiatif agar, setiap peternak butung wallet yang sudah berhasil dapat memberikan pengalamannya kepada masyarakat yang lain.
3.      Cara yang sangat ampuh untuk membebaskan gedung  walet dari serangga/ semut  adalah dengan menggunakan racun kapur ajaib. Racun ini harus  ditempatkan  di  seluruh  gedung  terutama  di  tempat  serangga  bisa  masuk  gedung  seperti  lubang  ventalasi. Racun tikus juga harus diletakkan di dalam gedung karena tikus sangat suka memakan sarang burung walet, sehingga menyebabkan burung walet menjadi stress dan mencari tempat lain yang lebih aman untuk bersarang. Racun  tikus juga efektif untuk tokek karena tokek juga suka memakan sarang burung wallet.
                              




           
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon. Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak..
2. Memiliki rumah / gedung walet ibarat punya harta karun yang tak akan pernah habis. Namun pemilikan itu tak akan berhasil kalau pemilik tidak menetapkan 5 prinsip persyaratan ilmu perwaletan dalam pengelolaannya. Masing-masing adalah biologi, ekologi, geografi, meteorology, dan ekonomi perwaletan. Kelima itu harus sejalan, saling mendukung, dan salingmelengkapi pengelolaan.
3. Gambaran Peluang Agribisnis Sarang burung walet merupakan komoditi ekspor yang bernilai tinggi. Kebutuhan akan sarang burung walet di pasar internasional sangat besar dan masih kekurangan persediaan. Hal ini disebabkan oleh masih kurang banyaknya budidaya burung walet. Selain itu juga produksi sarang walet yang telah ada merupakan produksi dari sarang-sarang alami. Peternakan burung walet sangat menjanjikan bila dikelola dengan baik dan intensif.

SARAN
Mengingat bahwa petrnakan burung wallet merupakan peluang bisnis yang cukup menjanjikan maka tidak heran, bawa banyak orang yang ingin dan berbisnis ini, namun dalam kesempatan ini kami ingin memberikan saran bahwa burung wallet juga merupakan makhluk hidup di bumi ini jadi untuk itu kita sebagai manusia harus bias menjaga kelestarian mereka bukan hanya ingin mendapatkan keuntungan semata. Kita harus dapat berfikir ke masa depan, kepada para penerus kita nantinya.




                                                              DAFTAR PUSTAKA
Arifin M S, Margareta, dan Sri. 2012. Distribusi Walet (Collocalia sp) di Kabupaten Grobogan. Semarang. Universitas Negeri Semarang : Jurusan Biologi, FMIPA. Unnes J Life Sci 1 (1).
Hakim A. 2011. Karakteristik Lingkungan Rumah Dan Produksi Sarang Burung Walet (Collocalia Fuciphaga) Di Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Skripsi. Institut Pertanian Bogor : Fakultas Peternakan.
Nanang. 2008. Prediksi Pendapatan Usaha Sarang Burung Walet Disangatta Kabupaten Kutai Timur. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda : Fakultas Ekonomi. Samarinda.
Saepudin R. 2006. Studi Habitat Makro (Collocalia sp) Di Kota Bengkulu. Bengkulu. Universitas Bengkulu : Fakultas Pertanian. Jurnal Sain Peternakan Indonesia. Vol 1(1):9-14.
Wikipedia Ensiklopedia Bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Burung_walet (di akses pada tanggal 12 April 2019).
.






















Komentar